| |
PROFIL LANGIT KRESNA HARIADI
Lepas dari Kota Jember, kendaraan saya yang melaju akan melewati pegunungan dengan jalan yang meliuk-liuk, lebih parah dari belokan-belokan di Puncak yang berpanorama lepas dengan latar tanaman teh sejauh mata memandang. Tempat itu amat dikenal dengan Gunung Kumitir, padahal nama Gunung Kumitir tidak terdaftar di peta mana pun. Gunung Kumitir sejatinya hanyalah lereng dari Gunung Raung.
Setelah melewati beberapa kota kecil antara lain Kalibaru, Glen More (ini nama peninggalan Belanda yang akhirnya berubah menjadi Glemor, ada juga nama yang masih berbau Belanda, Glen Falloch yang berubah menjadi Glenfaloh) Genteng dan Jajag lalu akan sampailah di kota kecil bernama Benculuk, maka saya harus mengambil arah ke selatan di mana di daerah itu terdapat Teluk Grajagan dan Plengkung yang legendaris itu. Untuk sampai ke tempat tujuan harus melewati hutan homogen dengan tanaman jati. Saat bocah saya sering membayangkan raksasa mendiami hutan itu. Diajak melewati hutan itu merupakan hal yang paling mendebarkan jantung.
Hutan jati inilah yang ketika geger pembantaian dukun santet Banyuwangi sebelum milenium ke 2 dikepung oleh ratusan orang atas petunjuk dukun karena dicurigai sebagai tempat turunnya para ninja (kambing hitam yang dituduh menjadi penyebab terjadinya pembantaian dukun santet). Mau tahu penyebabnya apa? Adalah hujan meteor Leonid yang di Jepang menjadi tontonan, disaksikan sebagai suata fenomena alam yang jarang terjadi dan sangat indah, sebaliknya di Banyuwangi dicurigai sebagai ninja turun dari langit.
Maka hutan pun dikepung, hasilnya? Ada yang digigit ular!
Atau bisa juga lewat jalur utara, setelah perjalanan menyisir sepanjang Probolinggo, Besuki, Situbondo dan Banyuwangi, saya masih harus melaju ke selatan di mana nantinya akan bertemu dengan kota Benculuk, atau bisa juga semasih di kota Srono membelok ke arah Muncar, di sebuah pertigaan kota kecil bernama Tembok Rejo belok ke kanan, tujuannya sama.
Bagaimana yang dari Bali ? Baik dari Denpasar maupun Singaraja menuju ke arah yang sama, Pelabuhan Gilimanuk. Ada banyak pilihan untuk menyeberang ke Jawa atau Banyuwangi antara lain menggunakan kapal feri maupun tongkang, selanjutnya saya akan merapat di Pelabuhan Ketapang yang menjadi bagian tidak terpisah dari Pelabuhan Tanjung Wangi. Setelah sampai di Ketapang saya bisa melewati rute yang sama untuk sampai di tempat tujuan.
Baik yang lewat Srono melalui jalur Muncar, maupun yang melintas Benculuk ke arah Teluk Grajagan akhirnya akan sampai di tempat tujuan ~ he he, itulah arah yang harus ditempuh bila saya pulang kampung ~ yang berudara nyaman dan bersih walau saya tidak berani mengatakan sejuk, maklum hanya berjarak 20 km dari laut dan bukan daerah pegunungan. Jarak dari rumah saya ke pelabuhan ikan Muncar “yang amat bau” hanya sekitar 20 km, jarak ke pelabuhan Grajagan yang menghadap ke samudra India hanya 15 km, sementara untuk ke Plengkung harus menempuh 25 km melewati hutan belantara yang masih banyak macan tutulnya. Seumur-umur saya baru sekali pergi ke Plengkung, ombaknya memang gila, terbaik pertama sedunia, Hawai baru kedua. Soal Muncar yang sangat bau, jangan coba-coba muntah-muntah di tempat itu karena akan menjadi pusat perhatian. Bagi penghuni Muncar yang telah terbiasa dengan bau, mereka beranggapan bau yang benar ya seperti itu. Mungkin kalau mendapat udara bersih, malah merasa aneh.
Rumah itu menghadap ke selatan berbentuk rumah jawa tradisional dengan ukuran sekitar 350 m, di depannya terdapat sebuah mushala mungil dan amat bersih yang sering menjadi tempat persinggahan. Rumah dikelilingi oleh kebun yang sangat luas berjejal berbagai tanaman. Ada kurang lebih lima puluhan pohon kelapa yang tak lagi bisa dipetik buahnya karena menjulang sangat tinggi. Konon semua pohon kelapa itu bahkan berusia lebih tua dari almarhum ayah dan ibu saya. Untuk bisa menikmati kelapa muda, saya pilih membeli dari pada menyuruh orang untuk memanjat. Ngeri membayangkan seseorang harus memanjat setinggi itu atas perintah saya, kalau sampai terjatuh, pasti ambyar dan jadi urusan, mending ndaklah.
Di belakang rumah ada sederet kolam berlatar rimbunnya pohon bambu yang menghalangi pandangan mata ke sawah di belakang. Kolam itu juga berusia lebih tua dari saya yang maksud pembuatannya adalah untuk memenuhi kebutuhan nutrisi. Akan tetapi karena lebatnya bambu dan banyak nyamuk, kolam itu tidak terurus dan tak jelas masih ada ikannya atau tidak. Ular banyak berkeliaran di tempat itu, bahkan yang berukuran paling besar selengan tangan. Saya masih menyimpan kenangan tentang ular itu amat rapi di usia sebelum sepuluh tahun. Seekor ular nongol dari sebuah lobang di belakang dapur kepergok oleh magersari lalu dipukul, namun ular itu keburu masuk ke dalam lobang. Sejenak kemudian terdengar gaduh di dapur, sebuah kekacauan yang ditimbulkan oleh ular yang sedang sekarat. Lobang itu tembus dapur rupanya. Berbulan-bulan setelah itu untuk ke dapur harus pasang mata, kecemasan yang mirip paranoid.
Di sebelah kanan rumah ditanami lima puluhan pohon jati berselang-seling dengan berbagai tanaman yang lain. Pekarangan kanan itu adalah sebuah tempat yang sangat penting karena di sanalah dulu, pada hari Selasa Pon 24 Pebruari 1959 di sebuah bangunan berbentuk pendapa saya dilahirkan sebagai bungsu dari 11 bersaudara melalui dukun bayi bernama Mbah Ponco. Saya sulit melupakan bagaimana Mbah Ponco mempunyai perhatian berlebihan pada saya, misalnya ketika beliau datang saya sering dibawakan cendol yang airnya mentah. Kata mendiang ibu, dari sebelas anak yang terlahir dari perutnya semua atas bantuan Mbah Ponco. Mrinding saya membayangkan sebuah proses persalinan yang berbasis dukun bukan atas pertolongan bidan, karena untuk memotong tali pusar tidak menggunakan gunting tetapi bilah bambu yang diraut amat tipis.
Di desa bernama Tegaldlimo (Arti harfiah Tegaldlimo adalah ladang pohon delima, anehnya saya tidak menemukan pohon itu, penduduk tidak ada yang menanam) itulah saya banyak menghabiskan masa anak-anak hingga tamat SD. Jenjang SMP saya selesaikan di Benculuk, SMA di Genteng yang kemudian berlanjut ke IKIP di Surabaya di mana saya mengambil jurusan…….fisika.
Sungguh itulah jurusan yang jauh panggang dari api bila dikaitkan dengan profesi yang saya tekuni sekarang. Untunglah saya tidak berhasil menamatkan, andai saya berhasil lulus pastilah saya akan jadi guru, menjadi kepala sekolah, menjadi dosen, menjadi Prof Dr, dan mustahil punya waktu untuk menulis puluhan novel yang beberapa di antaranya bisa dijadikan bantal. Jadi…untung nggak lulus. Saya ingat ketika itu betapa kecewa salah seorang kakak saya yang membiayai kuliah saya.
Ada banyak ragam profesi yang saya jalani berawal tahun 80-an saat mana saya memutuskan tinggal di Solo, sebuah tempat yang amat memenuhi gelegak seni saya. Di kota ini saya berhasil mengasah kehalusan berbahasa Jawa sehingga mampu dan layak menjalan tugas MC perkawinan sampai kematian, di kota ini saya bisa menyalurkan minat atas pertunjukan tradisi seperti wayang dan ketoprak meskipun hanya sebagai penonton. Sekali pernah bermain ketoprak sungguhan sebagai bintang tamu di Taman Ismail Marzuki bersama-sama antara lain Basofi Sudirman (mantan Gubernur), Marzuki Usman (mantan Menteri era Megawati), Prof. Dr. Edy Sedyawati (mantan Dirjen Kebudayaan RI), Luluk Sumiarso (Dirjen Migas RI) bersama para pemain Ketoprak betulan seperti Nurbuat, Timbul.
Bergelut dalam bidang seni rupanya tidak sekadar penyaluran hobby akan tetapi sekaligus merupakan pilihan hidup dan panggilan jiwa. Untuk urusan perut sepenuhnya bergantung pada semua kegiatan itu dan saya melihat, jarang orang berani mengambilnya sebagai sebuah pilihan. Ketika itu saya lihat, jarang ada orang tua yang senang anak gadisnya dinikahi penyiar, profesi yang sama sekali tidak menjanjikan masa depan.
Dengan menjadi penyiar sebuah Stasiun Radio menempatkan saya bersinggungan dengan proses produksi drama radio yang saat itu sedang boom. Ketika drama radio sedang jaya-jayanya, melalui CV Shakuntala di Solo saya membesut drama radio bertajuk Serial Petualangan Kristal yang sangat populer di Jawa dan Sumatera sehingga menarik perhatian dan dibeli oleh PT Kanta Indah Film. Tak puas berkutat di Solo saya bergabung dengan PT Sanggar Prathivi di Jakarta, saya menulis beberapa judul drama yang dibintangi oleh beberapa pemain drama terkenal seperti Fery Fadli, Ivone Rose, Elly Ermawati, M Abud, Petrus Usrfon antara lain berjudul Sabda Pandita Ratu , Gandrung Osing , Asmara Gang Senggol , Titisan Sang Batari . Ketika saya bergabung dengan PT Sanggar Prathivi, Novia Kalopaking (istri MH Ainun Najib) dan Maria Untu sudah tidak berada di sana .
Ada masa jaya ada pula masa redup, drama radio yang pernah demikian melambung ambruk digilas oleh munculnya Televisi Swasta, belum lagi dihimpit oleh krisis moneter yang terjadi menjelang milenium II. Ketika Harian Umum Angkatan Bersenjata ( HU AB ) mereformasi diri berubah menjadi Harian Umum ABRI saya bergabung dengan kantor Cabang/Biro Yogya dengan wilayah jelajah liputan Jawa Tengah.
Di sela kegiatan tersebut saya masih menyimpan banyak energi dan waktu sehingga dari tangan saya lahirlah cerita silat bersambung Beliung dari Timur yang dimuat oleh Harian Umum ABRI dan mencuri perhatian koran lokal SOLOPOS di Surakarta . Judul tersebut hadir setiap hari menyapa warga Solo hingga berlanjut ke sekuel Sang Ardhanareswari .
Selanjutnya masih ada banyak novel yang lahir dari ranah imajinasi saya antara lain Balada Gimpul (Balai Pustaka, Jakarta), Kiamat Para Dukun (Era Intermedia, Solo) Libby (Qalam Press Yogyakarta), Kiamat Dukun Santet (Gama Press Yogyakarta) Serong , (Tinta Yogyakarta), Alivia (Tinta Yogyakarta), Mengarang Ahh Gampang (non fiksi, Tiga Serangkai Surakarta) Diary of Jaka Tarup (menggunakan nama samaran, Diva Press Yogyakarta) Melibas Sekat Pembatas (non fiksi, Tinta Yogyakarta), Manusia Laminating (antologi cerpen, Tinta Yogyakarta) Siapa yang Nyuri bibirku (menggunakan nama samaran, Diva Press Yogyakarta) De Castaz , (Tinta Yogyakarta) The Prince Must Die, (Smart Media Solo) Gajah Mada I , (Tiga Serangkai Surakarta), Gajah Mada II bergelut dalam kemelut, Takhta dan Angkara (Tiga Serangkai Surakarta) Gajah Mada III Hamukti Palapa , (Tiga Serangkai Surakarta) Gajah Mada IV, Perang Bubat (Tiga Serangkai Surakarta) Gajah Mada V Madakaripura Hamukti Moksa.
Candi Murca I, Ken Arok Hantu Padang Karautan , merupakan projek pretisius yang diterbitkan sendiri melalui Langit Kresna Hariadi Production, merupakan pertama dari 10 episode cerita yang direncanakannya yang masing-masing akan terbit 3 atau 4 bulan sekali dengan tebal 832 halaman.
Mungkin anda bingung, bagaimana cara saya menulis buku seproduktif itu, rahasianya sebenarnya hanya pada kedisiplinan. Mengarang sebenarnya hanya sekadar mengolah imajinasi, jika saya menulis 10 halaman sehari, maka dalam sebulan saya menulis 300 halaman, yang apabila diolah kembali menggunakan Adobe Page Maker mekar menjadi 600 halaman.
Insya Allah, sampai menjelang saya pikun, saya akan tetap bergeming menulis.
KOMENTAR |
|